Pilu hati tragedi AMPERA terkait kasus Blowfish

Pilu hati melihat pemberitaan HOT NEWS Hari ini atas kasus tragedi kerusuhan ampera berlangsung di depan Pengadilan negri, sesama bangsa negara yang terkait kasus namun terjadi pembunuhan, sungguh ironis sekali, korban pun berjatuhan, orang yang tak bersalahpun harus mengakhiri hidupnya dalam tragedi itu, apakah tak pernah terbesit rasa iba?


Beginilah kronologis tragedi itu terjadi:

Mulai pagi halaman Pengadilan Negeri Jakarta Selatan steril, tidak ada kendaraan yang terparkir. Kendaraan pegawai dan pengunjung di parkir di halaman kosong yang terletak di utara pengadilan.

Sekitar 200 personel disiagakan sejak pagi di pengadilan. Meski demikian tidak ada pemeriksaan ketat pengunjung yang masuk ke pengadilan.

- Sekitar pukul 10.30 WIB, Susno Duadji tiba di pengadilan. Tidak lama sidang pembacaan dakwaan dimulai. Jaksa membacakan dakwaan Susno setebal 62 halaman sekitar 1,5 jam.

- Kira-kira pukul 13.00 hakim mengetuk palu, tanda sidang usai, sidang berlanjut pekan depan.

Usai sidang Jenderal Susno langsung dibawa kembali ke Mako Brimob, tempat dia ditahan. Sidang kasus Blowfish pun yang menunggu antrean dimulai. Belum sempat sidang mulai, kericuhan terjadi.

Dua orang dari salah satu kelompok massa terlihat sudah dalam keadaan berdarah di bagian leher dan lengan. Sebuah taksi dihentikan untuk mengangkut kedua korban. Lalu lintas di depan pengadilan yang biasanya padat, bertambah padat. Sebab, kelompok massa berhamburan di jalanan.

Beberapa orang di antara mereka sudah membawa senjata tajam berjalan di sekitar pengadilan. Polisi kewalahan mengendalikan massa yang mulai beringas. Tiba-tiba saja terdengar empat sampai lima kali letusan tembakan. Massa yang merangsek ke depan kembali mundur.

Polisi segera mengalihkan lalu lintas di depan pengadilan. Kendaraan dari arah Kemang diarahkan ke kanan, sementara dari arah Cilandak putar balik.

- Sekitar pukul 14.30 polisi anti huru hara didatangkan. Mereka membuat barikade di depan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan. Polisi anti huru hara itu memisah dua kelompok yang bertikai tapi bentrokan sudah usai meski suasana masih mencekam.

Sekitar seratus meter dari pengadilan, Kopaja yang mengangkut salah satu kelompok massa dirusak oleh kelompok yang berseberangan. Tidak ada kaca yang tersisa, semua pecah. Kopaja itu
'parkir' di depan Bakmi Ampera.

Dua kelompok massa tersebut mulai bisa dikendalikan, meski suasana masih mencekam. Mereka terlihat bergerombol, sesekali menelepon dan berbicara dalam bahasa daerah.

- Sekitar pukul 15.00, salah satu kelompok massa pergi meninggalkan lokasi kejadian. Mereka pergi ke arah utara pengadilan."Ke rumah sakit," kata salah satu massa, kepada rekannya yang masih berada di jalanan Ampera. Mereka menaiki mobil pribadi.

Polri kini sudah mendata mereka yang terlibat dalam kerusuhan itu. Polri menghimbau agar mereka menyerahkan diri. Jika tidak akan diburu ke manapun mereka kabur.

Tiga korban Kerusuhan Ampera dinyatakan tewas dan sejumlah korban lain mengalami luka serius akibat bacokan. Tiga polisi pun juga terluka terkena sabetan golok massa. Bahkan, Kapolres Jakarta Selatan Kombes Gatot Edy terserempet peluru di kakinya.

Berdasarkan informasi dari Kasat Reskrim Polres Jaksel Kompol Nurdi Satriaji, di TKP Jl Ampera Raya, Jakarta, Rabu (29/9/2010), Berikut Nama-nama 3 orang yang tewas di Kerusuhan Ampera:

1. Agustinus Tomazoa (49), kelahiran Ambon. Dia adalah warga Kramatjati RT 6 RW 9. Tewas di Wash Laundry dengan luka tembak dan muka dibacok.
2. Saefudin (48), kelahiran Medan tahun 1962. Dia warga Kebon Nanas RT 3 RW 1 Panunggangan Utara, Pinang, Tangerang, tewas di depan kantor Medco dengan kedua tangan putus.
3. Jefry, tewas di depan rumah makan Ampera dengan luka bacok.

Puluhan polisi menggunakan perlengkapan tameng besi membuat pagar betis di depan PN Jakarta Selatan. Puluhan polisi ini berbaris menghadap arah Cilandak. Sampai sekarang mobil-mobil yang diparkir di depan PN Jakarta Pusat masih banyak yang terjebak di sekitar lokasi bentrokan. Terlihat dua buah ambulans datang ke lokasi bentrokan tersebut untuk membantu para korban yang berjatuhan di Kerusuhan Ampera.


Sebelumnya tragedi awal insiden yang sama terkait sidang Blowfish:

4 April 2010
Perkelahian antara dua kelompok suku yaitu Ambon dan Flores meledak di Blowfish, klub kongkow elite di Jakarta yang bertempat di Plaza City sekitar pukul 01.00 WIB. Perkelahian bermula saat seorang pemuda 17 tahun berusaha menerabas masuk klub. Saat bodyguard melarang masuk, ia memaksa dan akhirnya dipukuli oleh petugas satpam yang terlebih dahulu dipukulinya. Laki-laki itu mengaku anak pejabat, dan janji akan membalas.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Boy Rafli Amar kala itu mengatakan, peristiwa itu berlatar belakang kekesalan petugas keamanan yang sebelumnya dipukul pengunjung karena tak tersedianya meja. Dalam bentrokan itu, M Soleh meninggal disusul oleh temannya, Yopi Inggratubun, yang meninggal dua minggu kemudian setelah dirawat di RS Medistra.

22 September 2010
Persidangan insiden Blowfish digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk kali perdana. Terdakwa kasus Blowfish, Bernadus Melala dan Kanor Lolo, didudukkan di kursi terdakwa. Namun, mereka lalu diamuk dan dipukuli pengunjung sidang dari kelompok berbeda yang bertikai saat hendak dibawa keluar dari ruang tahanan pengadilan menuju ruang sidang. Polisi sempat beberapa kali melepaskan tembakan peringatan, tetapi tetap tak mampu menghadang bentrok antara dua kubu.

29 September 2010
Agenda persidangan lanjutan kasus Blowfish. Agenda ini bertepatan juga dengan agenda persidangan perdana mantan Kabareskrim Polri Komjen Susno Duadji dalam dua perkara suap dan korupsi masing-masing menerima suap dalam penanganan kasus Arowana dan perkara korupsi dana pengamanan Pilkada Jawa Barat tahun 2008.

Pukul 09.00
Sebanyak dua SSK polisi Samapta dan Antihuru-hara disiapkan oleh kepolisian lengkap dengan tameng dan helm pelindungnya guna mengamankan dan mengantisipasi terjadinya kembali aksi kerusuhan pengunjung sidang Blowfish. Pengunjung sidang Blowfish dan Susno sudah mulai terlihat mendatangi Pengadilan Negeri.

Pukul 10.30
Susno tiba di Pengadilan dengan pengawalan ketat. Kericuhan terjadi kala pemburu berita mencoba mengabadikan kedatangan dan sidang perdana mantan Kapolda Jawa Barat itu. Satu kaca nako ruang pos bantuan hukum Ikadin di pengadilan pecah karena kericuhan.

Pukul 11.00
Susno dihadapkan ke persidangan dengan agenda pembacaan dakwaan. Ruang sidang utama dipenuhi pengunjung, keluarga Susno, dan awak media. Di sisi lain, pengunjung sidang Blowfish berkeliaran mulai memenuhi lokasi persidangan.

Pukul 12.00
Susno selesai melalui persidangan perdananya. Kericuhan kembali terjadi saat pemburu media berlomba mengabadikan dirinya dan memintai tanggapannya seputar dakwaan jaksa. Ibunda Susno, Mardiyah, dan keluarga besar Susno pun turut terseret desak-desakan dan aksi dorong yang mewarnai kericuhan.

Pukul 13.00
Aksi kerusuhan mulai pecah di antara kedua kubu “Blowfish” di luar area pengadilan, tepatnya di Jl Ampera Raya, di depan PN Jakarta Selatan. Kericuhan diduga bermula dari isu di antara kedua kelompok. Beredar kabar, salah satu kelompok mendatangi pengadilan dengan menumpang Kopaja jurusan Tanah Abang-Blok M guna melakukan aksi penyerangan lanjutan terhadap salah satu kelompok sebagai imbas dari kerusuhan sidang sebelumnya.

Salah satu kelompok yang mendengar isu itu menghampiri kelompok satunya dan berusaha menghadang kelompok lawan mereka di sekitar Jl Ampera sebelum sampai di depan Pengadilan. Badan bus Kopaja 608 yang diisukan ditumpangi lawan mereka itu pun menjadi sasaran amuk. Kaca dan kursi hancur karena dipukul dengan kayu dan batu. Beberapa orang juga terlihat menggoyang-goyangkan bus tersebut, sedangkan sebagian lain berniat membakar bus dengan memantik korek. Bus yang terparkir di depan toko buah Total Fresh tersebut terus menjadi bulan-bulanan massa. Namun, rencana membakar bus tersebut kemudian dibatalkan karena sebagian orang berusaha menghalangi hal tersebut.Aksi saling pukul dan lempar batu pun mulai terjadi di antara kedua kubu. Suasana mencekam. Warga dan pengguna jalan yang melintas dengan kendaraan ketakutan. Lalu lintas yang sebelumnya sudah macet menjadi tambah macet. Tembakan peringatan dan tembakan lainnya mulai terdengar bersahut-sahutan. Parang dan pedang tergenggam saling terayun dari masing-masing anggota kelompok ke arah masing-masing anggota kelompok lawan. Di antara mereka juga diketahui membawa senjata api. Seorang lelaki tampak terkapar di tengah jalan. Darah berlinang di tubuhnya.

Pukul 14.00
Personel kepolisian Antihuru-hara tambahan dari Polres Jakarta Pusat datang. Disusul oleh kedatangan satu ambulans PMI Jakarta Selatan dan beberapa mobil polisi lainnya. Korban kerusuhan mulai dievakuasi satu demi satu setelah sebelumnya sempat terabaikan karena tidak ada petugas medis.

Pukul 14.50
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Boy Raffli Amar mendatangi lokasi. Kapolda Metro Jaya Irjen Timur Pradopo menyusul datang meninjau lokasi. Boy melansir, tiga orang menjadi korban tewas akibat bentrok dan lebih dari sepuluh orang luka-luka.


Sedih hati melihat ini semua. Wahai saudara-saudara ku, apakah harus ada pertumpahan darah seperti ini? dapatkah kita untuk selalu damai? mampukah berfikir panjang sebelum emosi bertindak? mampukah kita jika berada diposisi keluarga sang korban yang kehilangan anggota keluarga, pasti takkan mampu.
sudah lama Indonesia kita ini merdeka, haruskah terjajah dengan bangsa sendiri.
bersatulah saudara2 ku, berdamailah kalian.

Ya Allah bukakanlah pintu hati mereka untuk perdamaian dan terimalah amal ibadah mereka yang telah menjadi korban disisimu, Amieenn.
Pilu hati tragedi AMPERA terkait kasus Blowfish Pilu hati tragedi AMPERA terkait kasus Blowfish Reviewed by Riri Restiani on 01.10 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.